Akhirnya rindu kita berubah menjadi debu yang terbang
meninggalkan tanah
Menyapa ranting dan hatiku yang patah
Di malam detik-detik panghabisan bulan oktober
Aku menyeka rindu berwujud hujan dari kelopak mataku
Yang tanpa seka mengalir menghangat dipipi
Tak ada lagi sapa mulai saat itu
Tak ada lagi candamu yang membuat tawa lepas
Tak ada lagi kamu yang menjadi tujuku
Bukannya tak rindu,
Aku hanya ingin menyadarkan kamu
Bahwa sakitnya berada di posisiku ini
Membuang getirnya yang mengendap di sela-sela hatiku
“Ini demi kamu” ucapku malam itu
“Demi bahagia kamu dan wanita yang bukan aku”
Sementara di balik ucapan ku, ada lubang yang menganga
dihatiku
Aku terlalu sibuk memikirkan bahagiamu
Hingga lupa hatiku sendiri yang perlahan terkikis,
kemudian mati
Aku lumpuh dengan keputusan yang aku ambil
Menyaksikan punggungmu yang makin menjauh
Sementara sesak di dadaku tak kunjung reda
Aku ingin berteriak di malam makin larut yang
memisahkan kita
Bahwa “kamu tetap disini*hatiku”
Tak sejengkal pun kamu pergi, sekalipun jasadmu telah
melangkah begitu jauh
Di 31 Oktober
Didetik pergantian bulan
Aku ingin kembali layaknya waktu itu
Namun, ada yang menahan langkahku
Yaitu…
Bahagia kamu dan wanitamu
Tetap jadi senja dihariku
Meski terbagi
Maafka aku yang memilih jauh
Sebab dekatmu, tak akan pernah bisa aku sentuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar