Minggu, 13 November 2016

Di Malam 31 Oktober


Akhirnya rindu kita berubah menjadi debu yang terbang meninggalkan tanah
Menyapa ranting dan hatiku yang patah

Di malam detik-detik panghabisan bulan oktober

Aku menyeka rindu berwujud hujan dari kelopak mataku
Yang tanpa seka mengalir menghangat dipipi

Tak ada lagi sapa mulai saat itu
Tak ada lagi candamu yang membuat tawa lepas
Tak ada lagi kamu yang menjadi tujuku

Bukannya tak rindu,
Aku hanya ingin menyadarkan kamu
Bahwa sakitnya berada di posisiku ini
Membuang getirnya yang mengendap di sela-sela hatiku

“Ini demi kamu” ucapku malam itu
“Demi bahagia kamu dan wanita yang bukan aku”
Sementara di balik ucapan ku, ada lubang yang menganga dihatiku
Aku terlalu sibuk memikirkan bahagiamu
Hingga lupa hatiku sendiri yang perlahan terkikis, kemudian mati

Aku lumpuh dengan keputusan yang aku ambil
Menyaksikan punggungmu yang makin menjauh
Sementara sesak di dadaku tak kunjung reda

Aku ingin berteriak di malam makin larut yang memisahkan kita
Bahwa “kamu tetap disini*hatiku”
Tak sejengkal pun kamu pergi, sekalipun jasadmu telah melangkah begitu jauh

Di 31 Oktober
Didetik pergantian bulan
Aku ingin kembali layaknya waktu itu
Namun, ada yang menahan langkahku
Yaitu…
Bahagia kamu dan wanitamu

Tetap jadi senja dihariku
Meski terbagi
Maafka aku yang memilih jauh

Sebab dekatmu, tak akan pernah bisa aku sentuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar