Senin, 28 November 2016

Sebelum Ini





Bukankah sebelum ini
Kita adalah sepasang manusia yang tak saling kenal
Tiba-tiba ada temu yang tak sengaja
Kemudian cipta senyum di balik ponsel yang menyala
Jatuh pada fase saling meredam gejola
.
Jika sebelumnya kita tak saling kenal
Bukankah konsepnya bisa sesederhana ini; aku pura-pura menjauh
Kemudian aku sengaja melupakan namamu dan kau dengan gampang melupakan ejaan namaku
Selanjutnya, aku hanya tinggal menyapu kenangan kita di teras-teras tempat dahulu kita menanti hujan
Mengarungi jutaan detik bersama
.
Jika sebelumnya kita tak saling kenal
Bukankah mudah untuk perihal melupakan
Kita jadikan ketidak hadiran masing-masing sebagai candu
Kemudian mataku dan matamu tenggelam dalam sembilu
.
Bukankah konsepku sederhana ?
Sesederhana perasaan yang kamu bagi untukku
Di sela lalaiku membentengi hati, kamu masukkan rindu yang membuatku menginginkan selalu wajahmu
Kamu menjelma menjadi laki-laki yang tak ingin di lupakan
Tak usah begitu, jika pada akhirnya kamu yang paling berhasil melupakanku
Kamu berrengkarnasi menjadi sosok yang ingin ku pecahkan
Lagi-lagi kamu kembali utuh dengan kenangan-kenangan kita yang kembali memutar
.
Bukankah sebelum ini
Aku dan kamu
Hanya sepasang manusia yang tak sengaja dipertemukan waktu
Hingga aku lupa, di dunia ini tak ada yang betul-betul “tak di sengaja”
Pertemuan kita misalnya
.
Bukankah sebelum ini kita adalah sepasang nama yang mulutmu pun tak pernah melafadzkannya
Maka kita hanya tinggal berlaku layaknya massa itu

Kamis, 24 November 2016

Aku


Aku selalu suka menjadi yang engkau perhatikan
Menjadi teman bicaramu
Menjadi orang yang menjawab beribu tanyamu
Juga menjadi pendengar atas cerita hidupmu
.
Ditengah malam yang semakin larut
Hanya ada kita dan harap-harap kecil didada
Tentang wajahmu ditengah kelut
Dalam obrolan ringan canda
.
Aku ingin menjadi pemerhatimu
Ditengah riuh rindu-rinduku
Diantara buih-biuh cintamu
Tersimpan dalam peti mimpiku
.
Sebab aku dan kamu hanya malam yang merindukan sendunya

Minggu, 13 November 2016

Di Malam 31 Oktober


Akhirnya rindu kita berubah menjadi debu yang terbang meninggalkan tanah
Menyapa ranting dan hatiku yang patah

Di malam detik-detik panghabisan bulan oktober

Aku menyeka rindu berwujud hujan dari kelopak mataku
Yang tanpa seka mengalir menghangat dipipi

Tak ada lagi sapa mulai saat itu
Tak ada lagi candamu yang membuat tawa lepas
Tak ada lagi kamu yang menjadi tujuku

Bukannya tak rindu,
Aku hanya ingin menyadarkan kamu
Bahwa sakitnya berada di posisiku ini
Membuang getirnya yang mengendap di sela-sela hatiku

“Ini demi kamu” ucapku malam itu
“Demi bahagia kamu dan wanita yang bukan aku”
Sementara di balik ucapan ku, ada lubang yang menganga dihatiku
Aku terlalu sibuk memikirkan bahagiamu
Hingga lupa hatiku sendiri yang perlahan terkikis, kemudian mati

Aku lumpuh dengan keputusan yang aku ambil
Menyaksikan punggungmu yang makin menjauh
Sementara sesak di dadaku tak kunjung reda

Aku ingin berteriak di malam makin larut yang memisahkan kita
Bahwa “kamu tetap disini*hatiku”
Tak sejengkal pun kamu pergi, sekalipun jasadmu telah melangkah begitu jauh

Di 31 Oktober
Didetik pergantian bulan
Aku ingin kembali layaknya waktu itu
Namun, ada yang menahan langkahku
Yaitu…
Bahagia kamu dan wanitamu

Tetap jadi senja dihariku
Meski terbagi
Maafka aku yang memilih jauh

Sebab dekatmu, tak akan pernah bisa aku sentuh